11:46 am - Selasa September 19, 2017

“JABRIK” Karawang Dibandrol 300 ribu

Written by | Juni 28, 2015 | 0
psk
Single content advertisement top

Berita Karawang, Brantas

Waktu menunjuk pukul 00.33 WIB dini hari. Jalan raya Purwasari Karawang sudah sepi lalu lalang kendaraan. Di sudut jalan, samping SPBU, tawa renyah wan­ita malam memecah kesunyian malam di sebuah warung kecil bercahaya te­maram.

Lela (26), sebut saja begitu (nama sa­maran) duduk menyilang kaki di sudut ruangan warung. Dua botol “bir bin­tang” dan beberapa bungkus rokok putih tampak di atas meja.

Hisapan asap rokok putih yang di ispenya menyeruak memenuhi atap ruangan warung yang sempit. Dua lelaki hidung belang duduk di se­belah Lela dengan mata nanar pen­garuh alkohol. Satu lelaki memeluk pundak Lela genit.

Satu pelukan mendarat di tubuh sintal Lela, saat kedua lelaki be­ranjak seraya merangkul pundak penuh mesum. Lela menyambut dengan tawa renyah. Selang beberapa menit, Lela menarik tangan Tim Brantas, yang sedari asyik menikmati suasana jalanan yang lengang.

Disodorinya sebotol “bir bintang”, Tim Brantas menolak dengan halus. “Maaf, Teh, saya gak biasa mi­num” ujar Tim Brantas.

“Oooo, kalo gitu maunya apa dong, A” ujarnya genit.  “Terserah Teteh”, Tim Brantas mencoba memancing pembicaraan.

Tanpa diminta, Lela berselorong nakal dan memancing pembicaraan yang menjurus.

“Emang tarif kamu berapa, Teh?” pancing Tim Brantas.

“Tiga ratus ribu, A” ujarnya seraya mesam mesem, lirikan matanya na­kal.

“Ooooo”, Tim Brantas mengang­guk, mencoba merespon celotehan Lela.

Selidik punya selidik, Lela ternya­ta bukan saja sekedar mangkal di warung remang itu. Siang harinya, Lela sehari-hari bekerja sebagai bu­ruh pabrik sepatu di daerah Tame­lang.

Menjelang malam, dini hari, Lela “nyambi” mencari mangsa lelaki hi­dung belang, baik sekedar minta ditemanin “minum” bahkan meneri­ma ajakan kencan. Dari penuturan Lela, dirinya diban­drol 300 ribu sekali kencan untuk short-time.

Masih menurut Lela, banyak teman-teman kerjanya “nyambi” menjajakan diri mencari mangsa hidung belang.

Tak dipungkiri, hasil investigasi Tim Brantas, banyak karyawati pabrik berprofesi sebagai “Jabrik” atau Jablai Pabrik.

Sebutan “miring” itu mungkin ha-nya populer di kalangan lelaki pe­nikmat “syahwat” liar wanita-wanita malam. Jika ditelisik, praktik mesum “Jabrik” model Lela merebak seiring bergesernya nilai-nilai sosial di mata masyarakat.

Praktik abu-abu, untuk tidak menyebutnya hitam sudah dianggap jamak. Terlebih, praktik bisnis “lendir” acapkali dilakukan di kamar kontrakan yang menjamur di lingkungan pabrik. Aksi tutup mata aparat lingkungan se­tempat kian membuka pintu lebar-leb­ar para pelakunya yang merasa aman dari control sosial di sekitarnya.

Menurut Wawan, pemuda Tamelang menuturkan, fenomena Jablai Pabrik atau “Jabrik” sudah lama menjadi isu rahasia di kalangan karyawati pabrik. Motifnya, selain memang mereka sengaja menjajakan diri karena motif ekonomi, namun tidak sedikit hanya untuk kesenangan semata. “Bahkan ada cewe yang dibayar hanya untuk beli susu anaknya” ujar Wawan. Miris..

 

 

(Visited 5.010 times, 4 visits today)
Single content advertisement bottom
Filed in: BERITA KARAWANG, UNDER COVER

No comments yet.

Leave a Reply