9:32 am - Senin September 25, 2017

Ini dia, 4 Kejahatan KDRT

Written by | Juni 15, 2015 | 0
kdrt
Single content advertisement top

Berita karawang, Brantas

Undang-Undang No.23 tahun 2004 mengatur kewajiban masyarakat dalam PKDRT, dimana bagi setiap orang yang mendengar, melihat, atau mengeta­hui terjadinya kekerasan dalam ru­mah tangga (KDRT) wajib melaku­kan upaya :

a) mencegah KDRT ; b) Memberi­kan perlindungan kepada korban ; c).Memberikan pertolongan daru­rat ; dan d). Mengajukan proses pengajuan permohonan penetapan perlindungan ; (vide pasal 15 UU PKDRT).

Namun untuk kejahatan ke­kerasan psikis dan fisik ringan ser­ta kekerasan seksual yang terjadi di dalam relasi antar suami-isteri, maka yang berlaku adalah delik aduan. Maksudnya adalah korban sendiri yang melaporkan KDRT yang dialaminya kepada pihak ke­polisian. ( vide, pasal 26 ayat 1 UU 23 tahun 2004 tentang PKDRT).

Namun korban dapat member­ikan kuasa kepada keluarga atau Advokat/Pengacara untuk mel­aporkan KDRT ke kepolisian (vide, pasal 26 ayat 2). Jika yang menjadi korban adalah seorang anak, lapo­ran dapat dilakukan oleh orang tua, wali, pengasuh atau anak yang bersangkutan (vide, pasal 27). Ada­pun mengenai sanksi pidana dalam pelanggaran UU No.23 tahun 2004 tentang PKDRT diatur dalam Bab VIII mulai dari pasal 44 s/d pasal 53. Khusus untuk kekerasan KDRT di bidang seksual, berlaku pidana minimal 5 tahun penjara dan mak­simal 15 tahun penjara atau 20 ta­hun penjara atau denda antara 12 juta s/d 300 juta rupiah atau antara 25 juta s/d 500 juta rupiah. ( vide pasal 47 dan 48 UU PKDRT).

Dan perlu diketahui juga, bahwa pada umumnya UU No.23 tahun 2004 tentang PKDRT, bukan hanya melulu ditujukan kepada seorang suami, tapi juga juga bisa ditujukan kepada seorang isteri yang melaku­kan kekerasan terhadap suaminya, anak-anaknya atau. keluarganya.

Banyak orang tidak mengerti, apa saja tindakan yang dikategori­kan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Seperti yang diatur dalam Un­dang-undang No 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT), jenis kekerasan yang termasuk KDRT adalah:

  1. Kekerasan Terbuka (overt)

Yakni kekerasan fisik yang dapat dilihat, seperti perkelahian, puku­lan, tendangan, menjambak, men­dorong, sampai pada membunuh.

  1. Kekerasan Tertutup (covert)

Biasanya dikenal dengan ke­kerasan psikis atau emosional. Ke­kerasan ini sifatnya tersembunyi, seperti ancaman, hinaan, atau cemooh yang kemudian menye­babkan tidak percaya diri, tidak berdaya, terteror, dan memiliki keinginan bunuh diri.

  1. Kekerasan Seksual

Merupakan kekerasan yang dilakukan untuk memuaskan has­rat seks (fisik) dan verbal (fisik). Secara fisik misalnya pelecehan seksual (meraba, menyentuh organ seks, mencium paksa, memaksa berhubungan seks dengan pelaku atau orang ketiga, memaksa ber­hubungan intim.

Sedangkan verbal seperti mem­buat komentar, julukan, atau gu­rauan porno yang sifatnya menge­jek, juga membuat ekspresi wajah, gerakan tubuh, atau pun perbuatan seksual lain yang sifatnya meleceh­kan dan atau menghina korban.

  1. Kekerasan Finansial atau Defi­nisi

Kekerasan yang dilakukan da­lam bentuk eksploitasi, memanip­ulasi, dan mengendalikan korban dengan tujuan finansial.

Serta memaksa korban bekerja, melarang korban bekerja tapi me­nelantarkannya, atau mengambil harta pasangan tanpa sepengeta­huannya.

 

 

(Visited 302 times, 1 visits today)
Single content advertisement bottom
Filed in: BERITA KARAWANG, ZONA MERAH

No comments yet.

Leave a Reply