8:56 pm - Selasa November 21, 2017

Petak Umpet PSK “Warlin”

Written by | Juni 14, 2015 | 0
psk, pelacur, prostitusi, lokalisasi
Single content advertisement top

Berita Karawang, Brantas Dulu, kawasan ini mer­upakan zona merah, di mana banyak warung re­mang-remang yang menjamur di sepanjang sisi jalan raya. Tepatnya di kawasan Cilo­dong, selepas pintu Tol Cikopo Cikampek arah Sadang Purwa­karta. Semenjak keberadaan warung-warung remang digusur, nyaris tidak ada lagi kehidupan mesum menggeliat di kawasan tersebut. Namun, itu hanya sesaat wak­tu. Sebab, bisnis para pelaku penjaja “lendir” selalu saja ada akal untuk mengelabui intaian aparat. Bila siang hari tidak terlihat aktivitas mesum di kawasan tersebut, lain halnya bila malam hari. Selepas pukul 19.00 malam akan nampak beberapa warung yang hanya berlapak meja berca­haya lilin bertebaran di kawasan ini. Para penunggu warung terse­but sudah dipastikan mereka para PSK yang sengaja mangkal untuk menawarkan kehangatan kencan sesaat. Tempat biasa mereka mang­kal biasa disebut Warung Lilin alias “warlin”. Satu lapak warung biasanya ada dua atau tiga wan­ita PSK. Usia para PSK di sana ada yang masih 30 tahun, sampai usia 40 tahunan. Sebut saja misalnya Shinta (33, nama samaran), PSK yang mengaku dari daerah Leles Garut itu sudah lima tahun mangkal di Kawasan Cilodong. Sempat pindah ke kawasan lokalisasi Patokbeusi Subang ketika kawasan tersebut digusur pihak Pemkab Purwakarta. Kini Shinta kembali ke kawasan Cilodong dan mangkal di salah satu lapak Warung Lilin di sana. Meski bukan berupa bangunan permanen, bukan berarti tidak ada tempat bagi PSK di sana tidak me­layani ajakan kencan lelaki hidung belang. Hasrat syahwat lelaki hidung diakali para pelaku bisnis “lendir” di kawasan tersebut dengan menye­diakan tenda yang hanya ditutupi terpal dan penerangan cahaya lilin. Bisa dibayangkan bagaima­na bila sewaktu-waktu tiba-tiba datang hujan. Namun, ya begitulah kehidupan prostitusi. Banyak warna dan rag­am cara untuk menyediakan jasa layanan “syahwat” liar prostitusi jalanan. Seperti yang dilakukan Shinta ini. Malah, bila tempat yang dise­diakan untuk kencan sedang digu­nakan PSK lain, dan si lelaki hidung belang tidak punya cukup uang un­tuk mencari hotel atau penginapan, Shinta biasa melayaninya dibawah pohon atau di semak-semak beral­askan kardus atau kain.Woowww!!! Namun, anehnya selalu saja ada lelaki hidung belang yang singgah di lapak mesum “warlin” Cilodong tersebut. Mungkin itulah, nap­su setan, kapan dan dimana pun, saat syahwat durjana datang, tidak peduli tempat atau keadaan. Ya, it­ulah kehidupan hitam prostitusi. Meski terkadang ada razia oleh aparat, Shinta mengaku tidak ka­pok mangkal di “Warlin” Cilodong. Namun, meski razia gencar dilakukan, Shinta tak sekalipun kena garukan petugas. Menurut Shinta, ia suka ada yang memberi tahu bakal ada razia dari salah seo­rang oknum aparat. “Mamih saya kan punya kena­lan aparat, A. Jadi kalo ada kabar ada razia suka telpon ke mamih,” ujarnya. Jadi, menurut Shinta, dirinya dan teman-teman seprofesinya di kawasan tersebut merasa aman bila sewaktu waktu ada razia. Mamihnya akan memberi tahu bila bakal ada razia aparat. Bila banyak razia, Shinta hanya mengandalkan hubungan melalui handphone untuk menawarkan lelaki hidung belang yang pernah kencan dengan dirinya. “Paling saya sms atautelpon mereka, A,” ujarnya.  

(Visited 3.932 times, 1 visits today)
Single content advertisement bottom
Filed in: BERITA KARAWANG, ZONA MERAH

No comments yet.

Leave a Reply