12:44 pm - Rabu September 19, 2018

Mengendus Jejak DI/TII di Alzaitun, Perlawanan Kader Malambong?

Written by | Juli 1, 2015 | 0
nii
Single content advertisement top

Berita Karawang, Brantas

Negara Islam Indonesia atau NII identik dengan tokoh kontroversial, SM Kartosuwiryo. Ideologi “Darul Islam”nya melahirkan embrio-embrio “ekstrim kanan”. SUKA atau tidak, NII masih eksis di negeri ini. Malah, pemerintahan NII faksi KW IX nyaris sempurna, tersusun rapi dari pemerintahan pusat hingga desa. 

Roda pemerintahannya dijalankan oleh kader militan yang dinamakan “mas’ul” hasil pola rekruitmen model “tilawah” yang intensif tanpa henti 1 x 24 jam. Nyaris, tidak ada jam kerja. Kaderisasinya dikukuhkan lewat prosesi yang dinamakan “tartib” dengan melalui pembekalan kepemimpinan yang disebut “irsyad”.

Sudah sebegitu kokohkan NII KW IX? Jika melihat ke belakang, dasar ideologi NII adalah pemikiran tokoh kontroversial yang sudah dicap “hitam” oleh sejarah, yakni Sekarmadji Marijan Kartosuwiryo lewat DI/ TII-nya.

Konstitusi “Qounun Azasi” DI/TII Kartosuwiryo sampai saat ini masih menjadi buku keramat NII, termasuk NII KW IX. NII KW IX dinilai faksi yang paling dinamis dan kratif melakukan gerakan bawah tanah.

Sejak tampuk kepemimpinannya dipikul pundak kader NII Abu Toto, NII KW IX merubah drastis pola perjuangan dengan membangun sistem metamorfosa yang efektif hingga luput dari jangkauan intelijen. Rekruitmen besarbesaran dilakukan di awal tahun 1990-an saat transisi kepemimpinan dari Imam NII ke empat, Adah Jaelani ke Abu Toto. Sasarannya adalah kalangan kampus melalui pola Wujumah.

Tabsiriah dan melakukan eksploitasi finansial besarbesaran melalui kocekkocek kader-kader baru. Tidak kurang dari Rp 10 milyar, dana terkumpul dari kantong NII wilayah DKI Jakarta tiap bulannya. Isunya, dana itu digunakan untuk membangun lembaga pendidikan modern melalui sistem pesantren (ma’had). Lalu, benarkah lembaga yang dimaksud adalah Al zaitun?

Secara formal, pertanyaan itu sampai saat ini belum terjawab. Meski banyak pihak yang memberi kesaksian akan isu tersebut, pemerintah RI belum yakin penuh Al Zaytun adalah sentral pemerintahan NII KW IX.

Namun, bila dugaan banyak pihak itu benar, dengan didukung kesaksian para mantan aktivis NII dari tingkat bawah sampai elitnya, jelas NKRI dalam posisi terancam. Kenyataan ini memberi bukti bahwa gugurnya Kartosuwiryo ternyata tidak memutus tongkat estafet perjuangan kader Darul Islam.

Jejak pemikian politik Kartosuwiryo” itu diduga masih bersemayam dalam benak kader NII KW IX yang diduga berbasis di Al Zaytun. Sebuah eksistensi perlawanan kader-kader sang Imam dari Malambong?

title=

 

 

(Visited 1.364 times, 1 visits today)
Single content advertisement bottom
Filed in: BERITA, OPINI

No comments yet.

Leave a Reply