2:55 pm - Rabu November 22, 2017

Kholifah Islamiah Akan Selalu Beroposisi Dengan Demokrasi

Written by | Juni 12, 2015 | 0
kholifah islam
Single content advertisement top

BERITA KARAWANG,Brantas

Khilafah Islamiyyah bermula sejak wafatnya Rasulullah SAW, sejak era Khulafaur Rasyidin, dilanjutkan pemerintahan Bani Umayyah, Bani Abbasiyyah, serta beberapa kerajaan lain sebe­lum runtuhnya kerajaan Islam yang terakhir, yaitu kerajaan Turki Ut­smaniyyah, pada 3 Maret 1924 M oleh Mustafa Kemal Atartuk, tokoh militer Turki yang disokong pihak Barat.

Kejatuhan Khilafah Islami­yyah, secara keseluruhan memberi dampak yang amat mendalam bagi umat Islam, termasuk terhadap pergerakan pemuda dan kelaskaran di Indonesia pada masa itu. Organ­isasi Sarekat Islam (SI) di Indonesia yang dibidani HOS Cokroaminoto pada tahun 1912 di masa kolonial menjadi kehilangan patron.

Konsep Khilafah Islamiyah di masa Turki Utsmaniyah yang men­jadi rujukan HOS Cokroaminoto untuk meyiapkan Indonesia menja­di negara merdeka menjadi terbelah. Orang-orang HOS Cokroaminoto seperti Soekarno, Semaun dan SM Kartosuwiryo memilih mengambil langkah sendiri-sendiri.

Semaun, yang dikuti Tan Malaka berkiblat ke Sovyet dengan Ideologi komunismenya. SM Kartosuwiryo tetap bersikukuh meneruskan Khi­lafah Islamiyah untuk membentuk Negara Islam di Indonesia melalui gerakan Darul Islam (DI). Pada tanggal 7 Agustus 1949, Kartosu­wiryo memproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia di Malam­bong Jawa Barat.

Sikap politik Kartosuwiryo mem­buat iklim revolusi kian memanas, terlebih di tengah melemahnya di­plomasi Indonesia pasca Perjanjian Renville 17 Januari 1948 dan mele­tusnya Agresi Militer Belanda Kedua yang ditandai serangan Belanda terhadap Yogyakarta tanggal 19 De­sember 1948.

Langkah ekstrim Darul Islam Kartosuwiryo mengangkat senjata melawan bangsa sendiri menimbul­kan trademark “hitam” bagi perger­akan Islam, pada saat dan sesudah itu. Setelah peristiwa berdarah “Pa­gar Betis” menumpas tokoh-tokoh Darul Islam, dikotomi Khilafah Is­lamiyah dan Demokrasi kian jelas. Pagar Betis sendiri adalah sandi operasi militer untuk menumpas gerakan Darul Islam yang artinya : Pasukan Gabungan ABRI-Rakyat Berantas Tentara Islam.

Demokrasi menjadi kampiun ri­valitas politik. Siapapun yang hen­dak meruntuhkannya, maka berha­dapan kekuatan dunia, yaitu dunia Barat yang diwakili Amerika dengan jargon demokrasnya.

(Visited 337 times, 1 visits today)
Single content advertisement bottom
Filed in: BERITA, OPINI, RESENSI

No comments yet.

Leave a Reply