2:57 pm - Rabu November 22, 2017

Terorisme Perang Melawan Siapa?

Written by | Juni 11, 2015 | 0
terorisme
Single content advertisement top

BERITA KARAWANG,Brantas

INDONESIA termasuk kategori nega­ra yang selalu mengambil sikap “aman” dalam hubungan luar negerinya. Begitu juga dengan sikap politik pemimpin­nya, mengikuti arus dan kepentingan global. Imbasnya, ketika dunia krisis, Indonesia ikut krisis. Ketika dunia makmur, Indonesia hanya “kecipratan” riaknya saja.

Begitu juga dengan tekanan politik global. Indonesia nyaris tidak berdaya karena dihimpit kekuatan besar yang maha dahsyat dalam mengendalikan sumber daya dan ekonomi dunia. Bila Indonesia berani melawan, hanya ibarat memutus jaring laba-laba, Indonesia akan kandas, habis. Beruntung, Indo­nesia memiliki kekuatan personel Ang­katan Bersenjata yang luar biasa. Meski kurang didukung Alutsista canggih dan modern, kekuatan personil TNI sangat disegani negara-negara maju. Indonesia memiliki pasukan khusus yang hebat.

Dari sisi ideologi, Indonesia selalu memandang dunia dari dua arah pan­dang. Sikap politik yang diambil selalu win-win solution, meski kadang ada resistensi dari rakyatnya sendiri atau dihujat karena cenderung “ngekor” ke­mauan negara “kuat”.

Sikap paranoid dunia Barat terhadap gerakan Islam, Indonesia ikut panik mengantisipasi isu yang didesign me­dia barat akan bahaya laten Islam fun­damental. Sementara ummat Islam di Indonesia santai-santai saja.

Ummat Islam Indonesia sejatinya adalah ummat yang paling toleran di banding negara-negara lain berpen­duduk mayoritas muslim. Hanya saja, ketaatan dan fanatisme aqidah um­mat Islam kadang dijadikan komoditi proyek negara Barat.

Ketua Forum Independen untuk Demokrasi dan Transparansi (FIDSI) Sacim Zein, mengatakan, kepanikan Indonesia atas isu ancaman Islam fundamental karena tertular paranoid dunia Barat terhadap gerakan Islam.

“Ini bukan perang kita (Indone­sia-red). Ini adalah perang Amerika melawan Islam, perang kepentingan global yang berambisi menguasai dun­ia. Indonesia akan dijadikan medan perangnya. Jadi Amerika menghabisi Islam bukan di negaranya, tapi di tanah ummat Islam sendiri,” ujarnya.

Setelah tragedi kelabu 11 September bebrapa tahun lalu, kebijakan politik Amerika sangat membabi buta, dan ti­dak didasarkan pada kenyataan objek­tif. Sehingga kecurigaan AS terhadap gerakan Islam radikal di Timur Tengah berlanjut ke kawasan Asia Tenggara. Pertumbuhan gerakan Islam yang san­gat pesat di Indonesia ternyata telah memancing kecurigaan pemerintah AS untuk melihat Islam di dalamnya dan kemungkinan terkait dengan jaringan terorisme. Itu sebabnya, pemerintah AS terkesan menggeneralisasi Islam di Indonesia sebagai sarang teroris.

Provokasi yang dilancarkan AS bisa menjadi bumerang. Paling tidak ada dua akibat yang ditimbulkan dari tud­ingan Indonesia sebagai sarang teroris. Pertama, jika Islam terus disudutkan, ditekan, dan dicurigai oleh kelompok di luarnya, justru yang terjadi adalah gerakan Islam menjadi semakin radi­kal dan siap mati untuk melawan atas nama agama.

Kedua, bukan tidak mungkin, kelompok Islam yang sudah cukup moderat berubah haluan menjadi radi­kal melawan kebijakan AS. Bukankah ini yang tidak kita inginkan? Kelom­pok moderat yang sudah susah payah menjelaskan kepada masyarakat inter­nasional bahwa Islam di Indonesia ti­dak didominasi oleh kelompok radikal menjadi berbalik mengecam provokasi yang menyudutkan Islam. Lalu, perang terorisme sebenarnya perang melawan siapa?

(Visited 451 times, 1 visits today)
Single content advertisement bottom
Filed in: BERITA, OPINI, RESENSI

No comments yet.

Leave a Reply