2:53 pm - Rabu November 22, 2017

Mitos dan Cerita dibalik Masjid Agung Karawang

Written by | Januari 17, 2016 | 0
masjid-agung-karawang
Single content advertisement top

Konon cerita, Masjid Agung Karawang adalah masjid peninggalan dari Syekh Quro yang bernama asli Syekh Hasanudin yang datang dari Champa (Kamboja) dan mendirikan pesantren pada tahun 1418 M pada saat kunjungannya yang kedua di pulau Jawa.

Pada kunjungan yang kedua inilah Syekh Quro mendarat di pelabuhan Bunut, Desa Bunut Karawang dan mendirikan mushola dan pesantren (yang sekarang menjadi masjid Agung Karawang).

Menurut cerita masjid kebanggaan warga Karawang ini memiliki misteri yang tersimpan konon barang siapa yag bertawasul dan itikaf di masjid ini akan terkabul segala hajat yang di minta.

Konon para pejabat dan calon bupati melakukan hal yang sama di masjid ini, mereka bermunajat di masjid ini. sesungguhnya bukan karena masjid Agung tetapi semua rumah Allah (masjid) adalah tempat yan terbaik dalam memohon doa dan bersimpuh memohon ridho-Nya.

Masjid Agung dipugar seperti sekarang ini pada jeruji jendela kayu semuanya berjumlah 17, yang melambangkan jumlah rakaat shalat dalam satu hari. Konon jumlah 17 ini juga melambangkan tanggal kemerdekaan Republik Indonesia.

Dari informasi petugas DKM Masjid Agung Karawang dikatakan sudah banyak ahli sejarah yang telah berusaha keras untuk menguak misteri berdirinya Masjid Agung Karawang, dari sekian banyak versi ada terdapat benang merah yang dapat ditelusuri.

Contohnya adalah dimulainya penyebaran Agama Islam di Pulau Jawa khususnya Jawa Barat di mulai pada tahun 1404 masehi, dimana nyai Subang Larang atau versi lain yang menyebutkan sebagai Subang Karancang, Dikisahkan sebagai nenek Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati yang merupakan salah satu wali songo periode kelima.

Tulisan ini merupakan pengantar dari menguak misteri keberadaan Masjid Agung Karawang dan juga  Misteri Peran Syekh Quro dalam penyebaran Agama Islam di Karawang serta kisah-kisah yang sempat dituturkan Imam Masjid Agung beberapa Waktu lalu

Keberadaan Masjid Agung Karawang yang saat ini kokoh berdiri tidak terlepas dari sosok Syekh Quro atau Syekh Hasanudin Penyebar Agama Islam di Jawa Barat khususnya di Karawang. Ia menjadikan Masjid Agung Karawang sebagai Mercusuar penyebaran agama Islam.

Diceritakan Syekh Hasanudin merupakan putera dari Syekh Yusuf Sidik/ Idofi seorang Ulama Besar dari Champa (Kamboja). Ia Kemudian melakukan penyebaran agama Islam ke Nusantara, ketika itu ia berlabuh di pelabuhan Cirebon yang kala itu juga dibawah pengawasan Ki Gedeng Tapa/Ki Gedeng Jumajan Jati.

Kemudian Syekh Hasanudin meminta izin untuk menyebarkan agama Islam di Cirebon kepada Ki Gedeng Tapa yang pada akhirnya menyetujui dan mempersilahkan Syekh Hasanudin menyebarkan keyakinannya.

Namun usaha untuk terus melakukan dakwah di cegah oleh kepemimpinan Raja Galuh  yang kala itu di pimpin oleh Prabu Angga Larang/Niskala Wastu Kancana.

Akhirnya guna menghindari pertumpahan darah  Syekh Hasanudin memutuskan untuk meninggalkan pulau Jawa dengan bertolak ke Malaka. Oleh Ki Gedeng Tapa, Syekh Hasanudin dititipkan putrinya yang baru berusia 12 tahun untuk menimba Ilmu Agama Islam, putri Ki Gedeng Tapa ini bernama Nyi Subang Larang.

Waktupun berlalu Syekh Hasanudin memutuskan kembali ke PUlau Jawa bersama muridnya Nyi Subang Larang, namun kali ini tidak merapat di Cirebon melainkan memalaui jalur lain yaitu ujung Karawang.

Ia beserta Muridnya menyusuri Sungai Citarum dan menambatkan perahunya di Pelabuhan Karawang yaitu Bunut Kertayasa (Saat ini dikenal sebagai Kampung Bunut).

Syekh Hasanudin kemudian meminta izin kepada penguasa setempat untuk mendirikan bangunan sebagai tempat tinggal sekaligus tempat pendidikan (mengaji), tempat tersebut dikemudian hari dikenal sebagai Pesantren Quro (Saat Ini dikenal sebagai kawasan Masjid Agung Karawang) pada tahun 1418 Masehi.

Mendengar kabar bahwa Syekh Hasanudin telah tiba dan mendirikan kediaman di Bunut Kertayasa membuat geram Raja Galuh kala itu Prabu Angga Larang.

Akhirnya ia mengutus cucunya Raden Pamanah Rasa / Jaya Dewata untuk membubarkan pusat pendidikan (Pesantren) Syekh Hasanudin. Singkat cerita Raden Pamanah Rasa datang lengkap dengan pasukan kerajaan menyambangi pesantren Quro, setelah tiba disana ia secara tidak sengaja mendengar alunan merdu ayat suci Al-Quran yang dilantunkan oleh Nyi Subang Larang.

Ia kemudian tertarik mendengar lantunan ayat-ayat suci Alquran tersebut yang akhirnya meluluhkan niatnya untuk membubarkan pesantren dan kembali ke Galuh.

Sejak peristiwa tersebut Prabu Pamanah Rasa tidak dapat melupakan kejadian tersebut, ia selalu terngiang akan lantunan suara Nyi Subang Larang yang  melantunkan ayat Suci Alquran, sehingga ia memutuskan datang ke pesantren kembali untuk melamar Nyi Subang larang.

Raden Pamanah Rasa akhirnya mendatangi Syekh Hasanudin dan mengutarakan keinginannya untuk mempersunting Nyi Subang Larang. Pucuk dicinta ulam pun tiba, akhirnya lamaran diterima namaun dengan syarat, yaitu mas kawin harus Bintang Saketi (bintang Kerti) yang dilambangkan simbol Tasbih dengan kata lain Prabu Pamanah Rasa harus masuk Islam dan Syarat kedua adalah salah satu keturunan dari anak yang dilahirkan harus menjadi Raja Galuh/ karena waktu itu kerajaan Pajajaran belum terbentuk.

Akhirnya syaratpun diterima dan pernikahan dilaksanakan di Pesantren Quro, sebagai penghulunya adalah Syekh Hasanudin atau Syekh Quro dan menurut informasi yang di dapat kala itu Nyi Subang Larang berusia 14 tahun dan Raden Pamanah Rasa kemudian menjadi Raja Pajajaran Bergelar Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maha Raja.

Dari hasil perkawianan ini dikaruniai tiga orang Anak, yaitu : Raden Walangsungsang / R. Cakra Buana, Nyi Mas Rara Santang / Sarifah Muda’im, dan Raden Sengara / Kean Santang.

Kemudian Raden Walangsungsang diberi kekuasan untuk menguasai Cirebon dengan gelar Cakra Ningrat/ Cakra Buana.

Menurut cerita sewaktu Raden Walngsungsang dan Nyi Mas Rara Santang Menuntut ilmu di Makkah, Nyi Mas Rara Santang dipersuntung oleh bangsawan Makkah yaitu Syekh Syarif Abdillah, kemudian Nyi Rara Santang mengganti namanya dengan Syarifah Muadaim dan dikaruniai dua orang putra yaitu Syarif Hidayatullah dan Syarif Narullah.

Pada Tahun 1475 M, Syarifah Muadaim beserta puteranya Syarif Hidayatullah kembali kepulau Jawa, dari situ dikarenakan Pangeran Cakra Buana Telah Sepuh pemerintahan diserahkan kepada Syarif Hidayatullah dengan gelar Sunan Gung Jati. (ka)

(Visited 1.257 times, 1 visits today)
Single content advertisement bottom
Filed in: MITOS

No comments yet.

Leave a Reply