2:53 pm - Rabu November 22, 2017

Melacak Jejak Sejarah “Urang Sunda” Yang Hilang

Written by | Juni 11, 2015 | 0
sunda jawabarat
Single content advertisement top

BERITA KARAWANG, Brantas

Katanya, kekuasaannya mem­bentang sejak Kali Cipamali di timur terus ke barat pada daer­ah yang disebut sekarang Jawa Barat dengan Prabu Siliwangi sebagai salah seorang rajanya yang bijaksana. Bet­ulkah?

Sejarah Sunda memang tidak ban­yak berbicara dalam percaturan sejarah nasional. “Yang diajarkan di sekolah, paling hanya tiga kalimat,” kata Dr Edi Sukardi Ekadjati, peneliti, sejarawan dan Kepala Museum Asia Afrika di Bandung. Isinya singkat saja hanya mengungkap tentang Kerajaan Sunda dengan Raja Sri Baduga di daerah yang sekarang disebut Jawa Barat, lalu run­tuh.

Padahal, kerajaan dengan corak animistis dan hinduistis ini sudah ber­diri sejak abad ke-8 Masehi dan be­rakhir eksistensinya menjelang abad ke-16 Masehi. Kisah-kisahnya yang begitu panjang, lebih banyak diketa­hui melalui cerita lisan sehingga sulit ditelusuri jejak sejarahnya.

Tetapi ini tidak berarti, nenek moy­ang orang Sunda di masa lalu tidak meninggalkan sesuatu yang bisa dila­cak oleh anak cucunya karena kecaka­pan tulis-menulis di wilayah Sunda sudah diketahui sejak abad ke-5 Mase­hi. Ini bisa dibuktikan dengan prasas­ti-prasasti di masa itu.

Prasasti koleksi Museum Adam Ma­lik Jakarta, memperkuat dugaan adan­ya kesinambungan Kerajaan Pasundan dengan Kerajaan Mataram Hindu di Jawa Tengah.

Bahkan bila dikaitkan dengan temuan-temuan prasasti di Jawa Barat termasuk temuan tahun 90-an, prasas­ti ini ikut memberi titik terang sejarah klasik di Tanah Pasundan yang selama ini masih gelap.

Kepala Bidang Arkeologi Klasik pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) Dr Endang Sri Hadiati mengemukakan Sejarah Klasik Sunda selama ini masih gelap, bila dibanding dengan sejarah klasik di Jawa Tengah, yang telah mampu memberikan sejarah lebih runtut.

Bila benar dugaan adanya kesinam­bungan antara Raja Sunda dan Jawa Tengah ini, maka ini merupakan asum­si sejarah baru dalam perkembangan sejarah nasional selama ini.

Endang Sri Hadiati menyatakan, kesinambungan atau adanya dugaan hubungan antara Kerajaan Pasundan­dan kerajaan di Jawa Tengah itu dise­but-sebut dalam lontar Carita Parahi­yangan yang ditemukan Ciamis, Jawa Barat.

Lontar yang ditemukan tahun 1962 ini mengisahkan tentang raja-raja Tanah Galuh Jawa Barat. Salah satu lontar dari Carita Parahiyangan yang belum diketahui angka tahunnya itu di antaranya menyebut nama Sanjaya sebagai pencetus generasi baru yang dikenal dengan Dewa Raja.

Apa yang disebut dalam Carita Par­ahiyangan, menurut Richadiana, ada kesamaan makna dengan prasasti yang ditemukan di Gunung Wukir, yang berada di antara daerah Sleman dan Magelang (Jawa Tengah).

Prasasti batu abad VII yang kemu­dian disebut sebagai Prasasti Canggal itu secara jelas menyebut, bahwa di wilayah itu telah berdiri wangsa atau kerajaan baru dengan Sanjaya nama rajanya, atau dikenal kemudian sebagai Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya.

Menurut Richadiana, prasasti Hu­ludayueh yang ditemukan di Cirebon tahun 1990 mengisahkan bahwa antara abad 10 sampai 12 hidup seorang Raja bernama Pakuan.

Sebelum itu ditemukan prasasti di Tasikmalaya yang dikenal dengan pra­sasti Rumatak. Prasasti berangka tahun 1.030 ini mengisahkan bahwa pada masa itu hidup seorang Raja Jaya Bu­pati.

Sejarah Jawa Barat hingga kini me­mang masih agak gelap, bila dibanding­kan dengan daerah-daerah lain di Nu­santara. Oleh karena itu setiap temuan arkeologi dari Jawa Barat senantiasa mengundang perhatian dan rasa pe­nasaran para pakar kebudayaan yang menggumuli masalah sejarah Sunda (Jawa Barat).

Untuk itu dikemukakan beberapa hal yang berkenaan dengan Prasasti Hulu Dayeuy. Prasasti Hulu Dayeuh tersebut bukan berasal dari (Predu) Ratudewata, tetapi kemungkinan ada hubungannya dengan Jayadewata (Raja Pakwan-Pajajaran abad ke-15 Masehi).

Raja ini sama dengan SriBaduga Maharaja atau Raden pamanah Rasa alias Sang Udubasu di dalam Cari­ta Parahiyangan, sesuai dengan yang disebutkan dalam rasasti Hulu Dayeuh itu sendiri (baris ke-11). Tetapi belum berarti bahwa prasasti tersebut dikelu­arkan oleh Raja Jayadewata.

Perlu kiranya diketahui bahwa Jaya­dewata tidak sama dengan Ratude­wata. Kedua raja ini memerintah di Pakwan-Pajajaran tetapi personilnya berbeda.

Bila Jayadewata memerintah pada tahun 1482-1521 Masehi (39 tahun) maka (Prebu) Ratudewata memegang tampuk Pakwan-Pajajaran tahun 1535-1543 Masehi (8 tahun).

Bagian atas batu prasasti tesebut patah, dan aksaranya pun turut hilang serta sebagian lagi ada yang akur, seh­ingga kronologi prasasti belum dapat diketahui dengan pasti. Bentuk huruf­nya diketahui beraksara Pasca Pallava, mirip aksara prasasti-prasasti masa Kayuwangi-Balitung (abad ke 9-10 Masehi)

(Visited 750 times, 1 visits today)
Single content advertisement bottom
Filed in: MITOS, RAGAM

No comments yet.

Leave a Reply