11:46 am - Selasa September 19, 2017

Mitos Sejarah Masjid Agung Karawang

Written by | Juni 11, 2015 | 0
masjid agung karawang
Single content advertisement top

BERITA KARAWANG,Brantas

Syekh Quro atau yang berna­ma asli Syekh Hasanudin yang datang dari Champa (Kambo­ja) dan mendirikan pesantren pada tahun 1418 M pada saat kunjungan yang ke dua di pulau Jawa. Pada kunjungan yang kedua inilah Sy­ekh Quro mendarat di pelabuhan Bunut, Desa Bunut Karawang dan mendirikan mushola dan pesant­ren (yang sekarang menjadi masjid Agung Karawang).

Di sisi lain yang harus digaris bawahi dan disadari bahwa tidak ada kebernaran sejarah yang mut­lak benar, bergantung kepada siapa yang menulis dan dari bagaimana mereka mengambil pijakan penu­lisan.

Dari informasi petugas DKM Masjid Agung Karawang dikatakan sudah banyak ahli sejarah yang tel­ah berusaha keras untuk menguak misteri berdirinya Masjid Agung Karawang, dari sekian banyak ver­si ada terdapat benang merah yang dapat ditelusuri contohnya adalah dimulainya penyebaran Agama Is­lam di Pulau Jawa khususnya Jawa Barat di mulai pada tahun 1404 masehi, dimana nyai Subang La­rang atau versi lain yang menyebut­kan sebagai Subang Karancang, Dikisahkan sebagai nenek Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati yang merupakan salah satu wali songo periode kelima.

Diceritakan Syekh Hasanudin merupakan putera dari Syekh Yu­suf Sidik/ Idofi seorang Ulama Besar dari Champa (Kamboja). Ia Kemudian melakukan penyebaran agama Islam ke Nusantara, ketika itu ia berlabuh di pelabuhan Cire­bon yang kala itu juga dibawah pengawasan Ki Gedeng Tapa/Ki Gedeng Jumajan Jati. Kemudian Syekh Hasanudin meminta izin untuk menyebarkan agama Islam di Cirebon kepada Ki Gedeng Tapa yang pada akhirnya menyetujui dan mempersilahkan Syekh Hasa­nudin menyebarkan keyakinannya. Namun usaha untuk terus melaku­kan dakwah di cegah oleh kepemi­mpinan Raja Galuh yang kala itu di pimpin oleh Prabu Angga Larang/Niskala Wastu Kancana.

Akhirnya guna menghindari pertumpahan darah Syekh Hasa­nudin memutuskan untuk mening­galkan pulau Jawa dengan bertolak ke Malaka. Oleh Ki Gedeng Tapa, Syekh Hasanudin dititipkan pu­trinya yang baru berusia 12 tahun untuk menimba Ilmu Agama Is­lam, putri Ki Gedeng Tapa ini ber­nama Nyi Subang Larang.

Waktupun berlalu Syekh Hasa­nudin memutuskan kembali ke PUlau Jawa bersama muridnya Nyi Subang Larang, namun kali ini ti­dak merapat di Cirebon melaink­an memalaui jalur lain yaitu ujung Karawang.

Ia beserta Muridnya menyusuri Sungai Citarum dan menambatkan perahunya di Pelabuhan Karawang yaitu Bunut Kertayasa (Saat ini dikenal sebagai Kampung Bunut). Syekh Hasanudin kemudian me­minta izin kepada penguasa setem­pat untuk mendirikan bangunan sebagai tempat tinggal sekaligus tempat pendidikan (mengaji), tem­pat tersebut dikemudian hari dike­nal sebagai Pesantren Quro (Saat Ini dikenal sebagai kawasan Masjid Agung Karawang) pada tahun 1418 Masehi.

Mendengar kabar bahwa Syekh Hasanudin telah tiba dan mendiri­kan kediaman di Bunut Kertayasa membuat geram Raja Galuh kala itu Prabu Angga Larang. Akhirn­ya ia mengutus cucunya Raden Pamanah Rasa / Jaya Dewata un­tuk membubarkan pusat pendi­dikan (Pesantren) Syekh Hasanu­din. Singkat cerita Raden Pamanah Rasa datang lengkap dengan pa­sukan kerajaan menyambangi pe­santren Quro, setelah tiba disana ia secara tidak sengaja mendengar alunan merdu ayat suci Al-Quran yang dilantunkan oleh Nyi Subang Larang.

Ia kemudian tertarik mendengar lantunan ayat-ayat suci Alquran tersebut yang akhirnya meluluh­kan niatnya untuk membubarkan pesantren dan kembali ke Galuh. Sejak peristiwa tersebut Prabu Pamanah Rasa tidak dapat melupa­kan kejadian tersebut, ia selalu terngiang akan lantunan suara Nyi Subang Larang yang melantunk­an ayat Suci Alquran, sehingga ia memutuskan datang ke pesantren kembali untuk melamar Nyi Sub­ang larang.

Raden Pamanah Rasa akhirnya mendatangi Syekh Hasanudin dan mengutarakan keinginannya untuk mempersunting Nyi Subang La­rang. Pucuk dicinta ulam pun tiba, akhirnya lamaran diterima namaun dengan syarat, yaitu mas kawin ha­rus Bintang Saketi (bintang Kerti) yang dilambangkan simbol Tasbih dengan kata lain Prabu Pamanah Rasa harus masuk Islam dan Syarat kedua adalah salah satu keturunan dari anak yang dilahirkan harus menjadi Raja Galuh/ karena waktu itu kerajaan Pajajaran belum ter­bentuk.

Akhirnya syaratpun diterima dan pernikahan dilaksanakan di Pesantren Quro, sebagai penghulu­nya adalah Syekh Hasanudin atau Syekh Quro dan menurut informa­si yang di dapat kala itu Nyi Subang Larang berusia 14 tahun dan Raden Pamanah Rasa kemudian menja­di Raja Pajajaran Bergelar Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maha Raja. Dari hasil perkawianan ini dikaruniai tiga orang Anak, yaitu : Raden Walangsungsang / R. Cakra Buana, Nyi Mas Rara Santang / Sa­rifah Muda’im, dan Raden Sengara / Kean Santang. Kemudian Raden Walangsungsang diberi kekuasan untuk menguasai Cirebon dengan gelar Cakra Ningrat/ Cakra Buana.

Menurut cerita sewaktu Raden Walngsungsang dan Nyi Mas Rara Santang Menuntut ilmu di Mak­kah, Nyi Mas Rara Santang diper­suntung oleh bangsawan Makkah yaitu Syekh Syarif Abdillah, kemu­dian Nyi Rara Santang mengganti namanya dengan Syarifah Mua­daim dan dikaruniai dua orang putra yaitu Syarif Hidayatullah dan Syarif Narullah.

Pada Tahun 1475 M, Syarifah Muadaim beserta puteranya Syar­if Hidayatullah kembali kepulau Jawa, dari situ dikarenakan Panger­an Cakra Buana Telah Sepuh pe­merintahan diserahkan kepada Syarif Hidayatullah dengan gelar Sunan Gung Jati.

(Visited 204 times, 1 visits today)
Single content advertisement bottom
Filed in: MITOS, RAGAM

No comments yet.

Leave a Reply